Exclusive from Good News From Indonesia

Bumi Manusia : Annelies, Jan Dapperste dan Pandangan Tentang Pribumi

Novel Bumi Manusia, buku pertama penjembatan cerita kompleks dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer kini diangkat ke layar lebar. Film
General
Wed Aug 21 2019 12:03:00 GMT+0000 (UTC)

Novel Bumi Manusia, buku pertama penjembatan cerita kompleks dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer kini diangkat ke layar lebar. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo berdurasi selama 3 jam ini bisa dikatakan bagus meski banyak yang bilang belum sesempurna novelnya.

Yang sering menjadi sorotan utama tentunya Minke dengan segala kecerdasan dan perjuangannya melawan diskriminasi rasial di persidangan bersama Nyai Ontosoroh dengan segala caranya. Minke pun digambarkan sebagai sosok yang cerdas baik di sekolah HBS maupun cara dia menulis dengan nama samaran Max Tollenaar.

Nyai Ontosoroh dan Minke dalam film Bumi Manusia (sumber : Pos Kota News)

Namun disisi lain ada hal yang menarik untuk dibahas adalah Annelies Mellema dan Jan Dapperste yang berkeinginan menjadi pribumi. Dalam buku Bumi Manusia terdapat tiga kasta yang perlu diketahui, yakni Totok yang berarti murni Belanda, Indo yang berarti blasteran atau campuran antara pribumi dan Belanda sedangkan yang terakhir adalah Pribumi.

Annelies merupakan anak dari Herman Mellema yang menggundik Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Berbeda dengan kakaknya, Robert Mellema yang menginginkan menjadi totok karena darah Eropa yang dimilikinya dan memandang rendah pribumi, Annelies yang seorang Indo selalu mengutarakan bahwa ia ingin menjadi pribumi seperti ibunya. Namun hal itu tidak mungkin karena mau tidak mau darah Eropa dari Herman Mellema mengalir di Annelies

Annelies Mellema dalam film Bumi Manusia

Annelies merasa menjadi pribumi pun tetap terhormat, maka dari itu ia tidak menganggap Minke yang pribumi sebagai manusia kelas dua seperti yang dilakukan oleh Robert Mellema dan Robert Suurhof. Robert Suurhof merupakan teman Minke di HBS yang juga seorang Indo dengan pandangan yang sama mengenai pribumi dengan Robert Mellema.

Isu rasial pada saat itu memang gencar, antara Totok, Indo dan Pribumi. Orang-orang Totok memiliki kasta paling tinggi sehingga pengadilan pun lebih banyak berpihak kepada Totok. Bisa dilihat ketika Nyai Ontosoroh bersama Annelies dan Minke di pengadilan membahas tentang kematian Heman Mellema. Nyai Ontosoroh (pribumi) diharuskan melepas sepatu dan berjalan jongkok sedangkan Annelies yang merupakan Indo diharuskan memakai sepatu dan berjalan seperti biasa.

Pada masa itu kata “keberadaban” lebih banyak membahas mengenai bagaimana orang Eropa bertingkah baik dan beradab sedangkan pribumi dinilai tidak memiliki tingkat keberadaban seperti Eropa. Bahkan ketika pribumi mampu berbahasa Belanda, pada pengadilan Nyai Ontosoroh dihardik dan disuruh untuk menggunakan bahasanya, bukan bahasa Belanda.

Disisi lain, kita perlu melihat bagaimana Jan Dapperste, seorang pribumi yang dipungut oleh keluarga pendeta Dapperste lalu dibaptis dan ditambahkan nama Dapperste yang berarti “Yang Terberani”. Ia dikenal penakut dan tidak pernah senang dengan nama Dapperste. Baginya, nama ini hanyalah beban. Untuk itu ia melihat Minke sebagai role modelnya. Dalam dirinya, ia tetap merasa sebagai pribumi dan bangga menjadi seorang pribumi. Setelah Jan lulus dari HBS, keluarga pendeta Dapperste bermaksud membawa Jan ke Eropa namun keinginan kuat Jan untuk menjadi pribumi membuatnya berani menceburkan diri ke laut dan berenang kembali ke Jawa.

Bryan Domani pemeran Jan Dapperste (sumber : Entertaiment Kompas)

Ia kemudian bertemu Minke dan mengutarakan keinginannya untuk menjadi pribumi, mengubah namanya menjadi Panji Darman. Berkat bantuan Minke ia menerima surat ketetapan Gubernur Jenderal melalui Residen Surabaya dan namanya kekal sebagai Panji Darman. Kepribadian Panji pun lambat laun berubah, dari yang dulunya penakut menjadi seseorang yang memiliki tujuan hidup dan bahagia dengan nama Panji Darman.

Kedua tokoh ini memiliki pesan mendalam akan bagaimana kita memandang pribumi. Sebagai manusia, kita tidak boleh merasa rendah akan jati diri kita, siapapun kita dan dari etnis manapun. Semua manusia sebenarnya sama, yang membedakan adalah bagaimana kita bersikap terhadap sesama manusia.

Salah satu scene di film Bumi Manusia (sumber : CNN Indonesia)

Annelies maupun Robert Mellema boleh jadi Indo yang memiliki privilege yang lebih tinggi ketimbang pribumi di buku tersebut. Namun perbedaan sikapnya sungguh jelas, Annelies menghargai pribumi sebagai sesama manusia sedangkan Robert memandang rendah para pribumi.

“Eropa gila sama saja dengan pribumi gila”

Sebuah kata yang diajarkan oleh Herman Mellema kepada Nyai Ontosoroh ketika Herman masih “waras” sebelum menjadi gila karena kedatangan anak kandungnya, Ir. Maurits Mellema dari istri di Belanda, Amelia Mellema Hammers.

Kata ini mengisyaratkan bahwa baik Eropa maupun pribumi memiliki strata yang sama. Dan kembali lagi, cara bersikap manusia yang membedakannya, bukan dari ras mana ia berasal.

Kita seringkali memiliki rasa inferior tethadap orang luar negeri, masih banyak yang menganggap orang luar negeri terutama yang berkulit putih dan berambut pirang atau sering kita sebut sebagai bule sebagai manusia dengan kasta yang lebih tinggi. Namun, pada dasarnya semua sama saja, manusia memiliki kasta yang sama di muka bumi terlepas dari ras manapun dia. rasa inferior ini seharusnya mulai dilawan dan kalau bisa ditiadakan karena tidak semua orang dari luar negeri pintar dan beradab seperti yang kita kira.

Telah banyak anak bangsa yang membuktikan hal itu, dari mulai berprestasi di kancah internasional hingga menjadi sosok perubahan dunia. Untuk itu, mari bangun kepercayaan diri kita, percayalah bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan kita merupakan anak bangsa dari bangsa yang besar itu.

Penulis: ADLI HAZMI
Dirilis pada 2019-08-21 17:35:00

Open in App