Exclusive from Good News From Indonesia

Bantu Kemandirian Petani, Seorang Perempuan di Garut Dirikan Pesantren Ekologi

Pesantren umumnya merupakan tempat untuk mempelajari dan mendalami hal-hal yang sifatnya agama. Namun apa jadinya jika sebuah pondok pesantren mengajarkan
General
Mon May 04 2020 03:26:00 GMT+0000 (UTC)

Pesantren umumnya merupakan tempat untuk mempelajari dan mendalami hal-hal yang sifatnya agama. Namun apa jadinya jika sebuah pondok pesantren mengajarkan kepada santrinya tentang hal-hal yang bersifat lingkungan dan tumbuhan.

Setidaknya itulah gambaran yang terjadi disebuah pondok pesantren bernama Ath-Thaariq di tahun 2009. Lokasinya sendiri berada di Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pesantren yang berdiri di atas tanah seluas 8.500 meter persegi tersebut dikelola oleh aktivis lingkungan perempuan asal Garut bernama Nissa Wargadipurra.

Mendirikan Pondok Pesantren

Pesantren Ekologi Garut. Foto: Kemenkopmk.go.id
Pesantren Ekologi Garut. Foto: Kemenkopmk.go.id

Pondok pesantren yang mengkaji berbagai persoalan agraria dan kelingkungan ini didirikan oleh Nissa atas keresahannya akan alih guna lahan oleh Perhutani.

Dilansir dari Mongabay Indonesia, wanita 45 tahun ini mengungkapkan jika alasan utamanya mendirikan pesantren adalah karena Ia merasa prihatin terhadap kondisi sekitar. Lahan pertanian di wilayahnya selalu diambil hak gunanya oleh perhutani atas dasar ekonomi sehingga mengurangi stabilitas ekonomi dari para petani sendiri.

Dari situ, ibu tiga orang anak ini mencoba mengedukasi para petani khususnya perempuan untuk bisa mengelola lahan pertanian secara mandiri. Hal tersebut agar para petani bisa lebih produktif dan variatif.

Menginisiasi Bertani Organik

Dalam situs Kemenkopmk.go.id, Nissa menceritakan pengalaman awal saat mendirikan pesantren. Ia mendampingi para petani dalam menggerakan penanaman pertanian organik di wilayahnya.

Para petani pun menjadi lebih sejahtera setelah Ia mengalihkan sistem pertanian semula dengan obyek padi maupun palawija.

Gerakan tersebut dianggap berhasil, dan mayoritas para petani di Bayongbong mulai banyak yang beralih dari menggunakan bahan kimia ke pupuk organik yang lebih ramah lingkungan.

Kurikulum Mendirikan Pesantren

Setelah berjuang bersama petani di wilayahnya, lantas Ia memilih fokus bersama suaminya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan berbasis lingkungan. Sejak saat itu diakhir 2009 Pesantren Ath-Thaariq lahir.

Di pesantren tersebut para santri tidak hanya diajarkan ilmu agama, namun juga dengan konsep ekologi yang dibangun. Nissa bersama suami, Ibang mengarahkan para santri untuk diajarkan cara bertani dan berwira usaha.

Ibang menjelaskan bahwa dalam kesehariannya, para santri melakukan aktivitas seperti biasa, ada yang sekolah, kuliah, lalu mengaji.

Namun yang menjadi tambahannya para santri selalu diajarkan untuk bertani. Mulai dari menyiram tanaman, memanen, hingga mengolah tanaman pasca panen menjadi aneka ragam produk pertanian.

"Yang kita olah di sini adalah produk pertanian organik. Yang pasca panen kita buat menjadi teh, atau gula semut, dan juga banyak yang lainnya. Banyak yang kita oleh dari tanaman yang kita tanam sendiri di lahan milik pesantren yang luasnya kurang lebih 1 hektare ini. Kita juga ajarkan santri membuat pupuk organik," kata Ibang dilansir dari Merdeka.com.

Mengarahkan Kesukaan Santri

Lebih lanjut disebutkan jika dalam pesantren tersebut Nissa membebaskan para santri untuk menentukan sendiri minatnya lewat kegiatan pembelajaran yang bebas dan aktif.

Lewat pembelajaran tersebut Nissa berharap para santri bisa bebas mengeksplorasi kemampuan bertani mereka. Dari mulai pembenihan, penanaman sampai tahap panen mereka melakukan sendiri.

Sumber: Merdeka

Penulis: INDAH GILANG PUSPARANI
Dirilis pada 2020-05-04 07:21:00


Smart City Software
Open in App