Exclusive from Good News From Indonesia

Cuci Parigi Pusaka, Tradisi Jaga Sumber Air di Lonthoir

Maluku, merupakan wilayah yang dihimpit berbagai pulau-pulau kecil nan indah. Ia memiliki beragam tradisi dan adat istiadat. Hampir setiap daerah
General
Sun Dec 09 2018 06:14:00 GMT+0000 (UTC)

Maluku, merupakan wilayah yang dihimpit berbagai pulau-pulau kecil nan indah. Ia memiliki beragam tradisi dan adat istiadat. Hampir setiap daerah atau perkampungan di tanah yang biasa disebut ‘Seribu Pulau’ ini, memiliki tradisi khas. Salah satu di Pulau Banda, tepatnya di Negeri Lonthoir, Maluku Tengah.

Negeri ini memiliki tradisi bernama ritual cuci Parigi Pusaka. Tradisi ini berlangsung 10 tahun sekali. Sebelum digelar, masyarakat negeri adat Andan Orsia atau Lonthoir, lebih awal lakukan prosesi penjemputan saudara kandung dari negeri adat Andan Orlima. Dalam Hikayat Lonthoir, diceritakan negeri adat Andan Orsia dan Andan Orlima, memiliki satu garis keturunan (nasab).

Dalam proses itu, tampak mereka dijemput seperti seorang raja dan ratu dari kahyangan. Di mana, kaki dan badan para sesepu atau tua-tua adat dari Andan Orlima, tak boleh tersentuh air, meski hanya setetes. Mereka diangkat dengan kursi dan berbagai alat peraga lain.

Ke Negeri Lonthoir ini, kalau memulai perjalanan dari Dermaga Banda Naira, jarak tempuh hanya dalam 10 menit dengan kapal kecil. Kalau ingin lebih cepat, pakaispeedboad.

Kalau lewat Ambon, lumayan jauh dan melelahkan. Dari bertolak dari Bandara Pattimura, Ambon, menggunakan pesawat udara, ditempuh sekitar 1,20 jam. Andai pakai Kapal Pelni, bisa 9-12 jam, tergantung kondisi cuaca.

Ribuan warga dari berbagai daerah termasuk manca negara, memadati lokasi cuci Parigi Pusaka, di Negeri Lontor, Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah | Foto: Nurdin Tubaka/ Mongabay Indonesia
Ribuan warga dari berbagai daerah termasuk manca negara, memadati lokasi cuci Parigi Pusaka, di Negeri Lontor, Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah | Foto: Nurdin Tubaka/ Mongabay Indonesia

Jejaki Lonthoir

Jam menunjukkan pukul 10.20 waktu setempat. Hawa panas menyambut kedatangan kami di Pulau Banda Naira, Maluku Tengah, setelah melalui perjalanan sekitar 1,20 jam dari Bandara Pattimura, Ambon. Kami pakai pesawat kecil.

Saya terbang bersama rombongan Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Mereka datang dari Jakarta untuk kunjungan kerja, sekaligus menyaksikan tradisi cuci Parigi Pusaka—akhirnya batal–, di Negeri Lonthoir, Pulau Banda.

Dari atas pesawat kapasitas 25 penumpang itu, saya duduk dekat pintu keluar. Duduk di samping kiri saya seorang awak pesawat, setiap menit saya bertanya, “Berapa lama kita menempuh perjalanan menuju Pulau Banda?”

Sekitar satu jam perjalanan, tiba-tiba awak pesawat di samping kiri menepuk pundak saya, seraya berkata, “Bang sekitar 20 menit lagi kita sudah tiba di lapangan terbang Banda Naira.” Mendengar kalimat itu, saya tersenyum dan segera mengeluarkan kamera di dalam tas.

Sebelum pesawat berhenti, tampak sejumlah mahasiswa dan dosen dari Sekolah Tinggi Hatta-Sjahrir sedang berbaris di bandara itu. Mereka menggelar acara penyambutan para senator dan rombongan DPD RI ini.

Keesokan harinya, saya menuju dermaga mini di Pantai Banda Naira. Di tempat penyebrangan, terlihat banyak orang tergesa-gesa dan desak-desakan naik ke kapal-kapal kecil.

Saya bertemu dua teman. Sepanjang perjalanan ke Lonthoir, mata dimanjakan berbagai panorama laut. Keeksotikan Gunung Ganapus juga begitu mengangumkan.

Tradisi saling siram air yang dibersihkan dari dalam Parigi Pusaka | Foto: Nurdin Tubaka/ Mongabay Indonesia
Tradisi saling siram air yang dibersihkan dari dalam Parigi Pusaka | Foto: Nurdin Tubaka/ Mongabay Indonesia

Setelah 10 menit berjibaku, kami pun tiba di Pelabuhan Negeri Lonthoir. Tradisi cuci Parigi Pusaka menarik simpati ribuan pengunjung, bukan saja orang dari Ambon atau daerah lain di Maluku, namun dari berbagai daerah sampai manca negara.

Kami menuju pemukiman warga di mana ritual berlangsung. Kami melewati tempat yang diberi nama tangga-tangga seribu. Tangga ini memiliki anakan 200 lebih. Tiba di puncak anakan atau tangga terakhir, kami mengambil arah kanan, berjarak kira-kira 50 meter. Lokasi ini sudah dipenuhi ribuan orang. Mereka terlihat desak-desakan.

Kami masuk ke lokasi. Di sana ada dua parigi dikawal ketat pasukan berpakaian putih tak beralas kaki, sebagian lagi pakai parang dan salawaku (tameng), baju adat berwarna merah serta alas kepala berala kompeni. Berdiri di samping-samping parigi pula, beberapa tokoh agama maupun adat yang akan menjalankan ritual cuci parigi.

Hadir banyak pihak antara lain, Gubernur Maluku, Said Assagaff, perwakilan TNI/Polri, sampai wisatawan.

Ritual adat itu dibuka gubernur. Sebelum pembukaan, ada ritual mengarak belang darat oleh 99 pria diiringi cakalele (tarian khas Maluku) dari arah rumah adat Lonthoir menuju Parigi Pusaka. Sebanyak 99 orang ini adalah mereka yang ditunjuk untuk membersihkan Parigi Pusaka.

Setelah gubernur membuka acara, para pria berbenang kuning di kepala pun masuk ke parigi (sumur) sedalam sekitar empat meter. Diiringi tarian adat dan lantunan irama tifa, mereka turun perlahan-lahan membersihkan air di parigi.

Selama hampir tiga jam, para pria ini berjibaku dengan air di dalam parigi. Mereka menimba air hingga habis. Dalam prosesi itu, terlihat mereka saling menyiram dan menggosok tubuh dengan air serta lumpur atau sisa-sisa kotoran.

Meski dikotori air dan lumpur, mereka tidak jijik maupun rasa gatal. Warga bahkan berebutan botol mineral untuk mengisi air guna dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Usai membersihkan parigi hingga kering, regu cakalele menjemput kain gajah dari rumah adat. Kain gajah warna putih sepanjang 99 meter itu dihantar warga, selanjutnya masuk ke parigi untuk membilas air hingga kering.

Setelah air parigi benar-benar kering, ratusan perempuan, mulai dari anak-anak hingga dewasa, menarik dan membawa kain ke pantai desa untuk dibersihkan.

Konon, peristiwa sakral ini mengingatkan warga tentang penyebaran Islam di Negeri Lonthoir. Di mana, saat itu sejumlah ulama penyebar Islam dari Timur Tengah sedang mencari air untuk berwudhu. Tiba-tiba seekor kucing muncul dari semak-semak. Di sanalah, ada sumber mata air yang jadi Parigi Pusaka ini.

Tarian cakalele oleh warga Lonthoir Pulau Banda | Foto: Rusdi Takartutun
Tarian cakalele oleh warga Lonthoir Pulau Banda | Foto: Rusdi Takartutun

Jaga dan bersihkan sumber air warga

Hidayat Yusuf, Ketua Panitia Cuci Parigi Pusaka, menuturkan, proses membersihkan sumur setiap 10 tahun sekali.

Parigi ini, katanya, sumber air minum bagi warga Lonthoir dan sekitar hingga harus dibersihkan guna melindungi masyarakat dari berbagai hal tak diinginkan.

“Tujuan kita untuk membersihkan parigi dan menyucikan warga dan negeri dari kotoran. Jadi setiap 10 tahun sekali kami melaksanakan ritual ini,” kata Hidayat.

Dia bilang, disebut Parigi Pusaka, karena keistimewaan air parigi ini tak pernah kering meski kemarau panjang. Air parigi ini, sehat buat minum.

Said Assagaff, Gubernur Maluku mengapreasiasi prosesi cuci Parigi Pusaka ini. Dia minta, tradisi ini terus dijaga sebagai warisan leluhur. Selain memiliki nilai kesakralan, dan religi, ritual ini juga sarana mengenalkan wisata di Banda Naira dan Maluku.

Ikram, pengunjung dari Jawa Timur bilang, orang Maluku memiliki budaya dan tradisi penting. Dia juga kagum dengan panorama laut Pulau Banda. Titik-titik wisata di Banda menggiurkan dia kembali berlibur ke Maluku.

“Saya suka laut. Rasa penat saya hilang ketika melihat pulau-pulai kecil dengan keindahan laut. Yang paling terkesan gunung merapi yang menjulang tinggi,” katanya.

Sebelum ke Desa Lonthoir, dia mendatangi Benteng Belgika, peninggalan orang-orang Portugis dan Belanda. Dia terkesan sekali dengan keindahan dari atas benteng itu.

Wowseru. Keindahan masih terjaga. Saya harap keindahan ini terus dilestarikan agar menarik para wisatawan.”

Pasukan berpakaian putih dan merah yang ditugaskan untuk menjaga Parigi Pusaka, saat prosesi adat berlangsung. Foto Nurdin Tubaka/Mongabay Indonesia
Pasukan berpakaian putih dan merah yang ditugaskan untuk menjaga Parigi Pusaka, saat prosesi adat berlangsung | Foto: Nurdin Tubaka/Mongabay Indonesia


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesiaatas kerjasama dengan GNFI

Penulis: VITA AYU ANGGRAENI
Dirilis pada 2018-12-09 11:54:00

Open in App